Sektor manufaktur tetap menjadi salah satu bidang dengan risiko keselamatan kerja yang tinggi, terutama akibat penggunaan mesin berat, bahan kimia, dan lingkungan produksi yang dinamis. Di era produksi cerdas (smart manufacturing), tantangan K3 semakin kompleks dengan masuknya teknologi otomasi, robotika, dan sistem cyber-physical yang mengubah cara kerja manusia dengan mesin. Meskipun teknologi meningkatkan efisiensi, interaksi antara pekerja dan mesin otonom membuka potensi kecelakaan baru jika tidak dikelola dengan sistem pengendalian risiko yang memadai.
Salah satu tantangan utama dalam K3 di manufaktur cerdas adalah kesiapan sumber daya manusia menghadapi perubahan teknologi. Banyak pekerja masih kekurangan pelatihan dalam mengoperasikan sistem otomatis atau memahami peringatan dari sensor digital. Selain itu, risiko ergonomis dan stres kerja meningkat akibat tuntutan produktivitas yang lebih tinggi, pengawasan digital, dan kurangnya variasi tugas di lini produksi otomatis. Oleh karena itu, pendekatan K3 harus mencakup aspek psikologis dan fisik secara holistik.
Inovasi teknologi juga menjadi solusi utama dalam meningkatkan K3 di pabrik modern. Penerapan Internet of Things (IoT) memungkinkan pemantauan kondisi mesin dan lingkungan kerja secara real-time, seperti deteksi suhu berlebih, getaran abnormal, atau paparan bahan berbahaya. Sistem kecerdasan buatan (AI) dapat menganalisis pola kerja dan memprediksi potensi kecelakaan sebelum terjadi, sementara wearable device seperti rompi cerdas atau smart helmet mampu mendeteksi detak jantung, posisi jatuh, atau paparan panas berlebih pada pekerja.
Pelatihan berbasis teknologi seperti virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) juga semakin penting dalam membangun kesadaran K3. Dengan simulasi kecelakaan kerja atau keadaan darurat, pekerja dapat belajar merespons tanpa risiko nyata. Selain itu, sistem pelaporan insiden digital mempercepat komunikasi antar level dan memastikan penanganan cepat, serta membentuk dokumentasi yang transparan untuk audit dan evaluasi sistem K3 secara berkelanjutan.
Keberhasilan penerapan K3 di manufaktur cerdas tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada komitmen manajemen dan partisipasi aktif pekerja. Regulasi seperti ISO 45001 dan program K3 Nasional Indonesia (2024–2029) mendorong penerapan sistem manajemen yang terintegrasi dan berkelanjutan. Dengan kombinasi teknologi, kebijakan strategis, dan budaya keselamatan yang kuat, sektor manufaktur Indonesia dapat mencapai tingkat keselamatan kerja yang setara dengan standar global, sekaligus mendukung produktivitas dan transformasi digital yang berkelanjutan.